Langsung ke konten utama

Menjemput Keberkahan di Bulan Suci (Kajian ke-4 Bersama Ustadz Fikri Noor Al Bukhori)


KUDUS – Menyambut datangnya bulan suci yang penuh ampunan, Mushola Al Amin menggelar kajian khusus bertajuk "Keutamaan dan Strategi Peningkatan Ibadah di Bulan Ramadhan". Dalam tausiyah yang disampaikan oleh Ustadz Fikri Noor Al Bukhori, S.Th.I pada Minggu (1/2), beliau menekankan bahwa Ramadhan bukan sekadar ritual menahan lapar, melainkan momentum transformasi spiritual yang mendalam.

Puasa: Ibadah Eksklusif Antara Hamba dan Pencipta

Ustadz Fikri membuka kajian dengan mengutip sebuah Hadits Qudsi yang sangat menyentuh hati. Dalam hadits tersebut, Allah SWT berfirman bahwa puasa adalah milik-Nya secara khusus, dan hanya Dia yang akan memberikan pahalanya secara langsung.

"Puasa adalah ibadah yang bersifat tersembunyi (sirri). Tidak ada yang tahu seseorang benar-benar berpuasa kecuali dirinya dan Allah. Di sinilah letak ujian keimanan yang sesungguhnya," ujar beliau.

Karena sifatnya yang rahasia, puasa menjadi tolok ukur kejujuran seorang hamba dalam menjalankan perintah Tuhan tanpa perlu pengakuan dari manusia lain.

Ragam Amalan Pengisi Ramadhan

Selain kewajiban puasa, Ustadz Fikri memaparkan beberapa pilar ibadah yang dapat mendongkrak kualitas spiritual selama bulan suci:

  1. Qiyamun Ramadhan (Sholat Tarawih): Meskipun hukumnya sunnah, tarawih adalah penghidup malam-malam Ramadhan yang sarat dengan pengampunan dosa.

  2. Sedekah yang Utama: Beliau mengingatkan bahwa sedekah terbaik adalah yang dikeluarkan pada bulan Ramadhan. Termasuk di antaranya adalah memberi makan (ifthar) bagi orang yang berpuasa, yang pahalanya setara dengan orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.

  3. Tadarrus Al-Qur’an: Menjadikan Al-Qur'an sebagai pendamping setia adalah kunci ketenangan hati selama bulan suci.

  4. Menghidupkan Waktu Syuruq: Ustadz Fikri menganjurkan jamaah untuk tidak langsung tidur setelah Subuh. "Isilah waktu dengan dzikir atau mengaji hingga matahari terbit sempurna, lalu laksanakan sholat Syuruq," tambahnya.

Pentingnya Iktikaf

Di penghujung kajian, beliau menyinggung pentingnya Iktikaf atau berdiam diri di masjid dengan niat ibadah. Iktikaf merupakan sarana untuk melakukan evaluasi diri (muhasabah) dan mempererat hubungan dengan Sang Khalik, terutama di sepuluh malam terakhir guna menjemput kemuliaan Lailatul Qadar.

Melalui ringkasan kajian ini, diharapkan umat Muslim dapat mempersiapkan diri tidak hanya secara fisik, tetapi juga mental dan spiritual agar Ramadhan tahun ini menjadi yang terbaik dari tahun-tahun sebelumnya.

Oleh: Redaksi Kalam Lentera Masa dan Kesekretariatan PRM-PRA Garung Lor (Berdasarkan Kajian Bulanan ke-4 di Mushola Al Amin, 1 Februari 2026)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENJAGA NYALA TAQWA SAAT RAMADAN ( Kajian Ramadhan oleh Ustadz Nuruz Zaman, ST )