MENJAGA NYALA TAQWA SAAT RAMADAN ( Kajian Ramadhan oleh Ustadz Nuruz Zaman, ST )
Pernahkah Anda merasa iman sedang naik-turun? Kadang kita merasa sangat dekat dengan Sang Pencipta, namun di waktu lain, rasanya hati ini begitu hambar dan jauh. Fenomena ini seringkali menjadi pengingat bagi kita untuk kembali mensyukuri rentetan nikmat yang sering kita lupakan.
Apa saja esensi ibadah, khususnya di bulan suci Ramadhan ini.
1. Menyadari Hujan Nikmat yang Tak Terhenti
Mengapa kita kadang tiba-tiba merasa jauh dari Allah? Salah satu pemicunya adalah kurangnya kesadaran akan nikmat-Nya.
Allah memberikan fasilitas luar biasa bagi kita:
a. Nikmat Kehidupan: Napas yang masih berhembus.
b. Nikmat Sehat: Fisik yang mampu bergerak dalam sebuah kebaikan.
c. Nikmat Sempat: Waktu luang yang seringkali terbuang sia-sia, harus kita manfaatkan dengan sebaik mungkin.
d. Nikmat Niat & Kemampuan: Ini yang paling utama. Tidak semua orang memiliki niat untuk berbuat baik, meski mereka punya kemampuan. Menjadi orang yang digerakkan hatinya oleh Allah adalah anugerah terbesar.
2. Ramadhan: Madrasah Kedisiplinan Rohani
Saat ini kita masih berada dalam suasana Ramadhan. Sebagaimana termaktub dalam Al-Baqarah ayat 183, puasa diwajibkan bagi orang beriman dengan satu target utama: Menjadi orang yang bertaqwa.
يٰٓاَيُّهَاالَّذِيْنَاٰمَنُوْاكُتِبَعَلَيْكُمُالصِّيَامُكَمَاكُتِبَعَلَىالَّذِيْنَمِنْقَبْلِكُمْلَعَلَّكُمْتَتَّقُوْنَ
Yā ayyuhallażīna āmanū kutiba 'alaikumuṣ-ṣiyāmu kamā kutiba 'alallażīna min qablikum la'allakum tattaqūn.
Artinya:
"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.
Ramadhan disebut bulan penuh berkah karena setiap amalan dilipatgandakan. Diriwayatkan dalam sebuah Hadits Qudsi, Allah berfirman bahwa puasa adalah khusus untuk-Nya, dan Dia jugalah yang akan memberikan nilai pahalanya secara langsung.
Namun hati-hati, puasa bisa menjadi sia-sia jika kita tidak serius menjalaninya.
3. "Bonus" Luar Biasa bagi Orang Berpuasa
Bagi mereka yang bersungguh-sungguh, Allah telah menyiapkan berbagai bentuk kebahagiaan:
a. Pintu Ar-Royyan: Gerbang khusus di surga bagi ahli puasa.
b. Kebahagiaan Spiritual: Rasa haru saat berjumpa dengan kuasa Allah.
c. Kebahagiaan Duniawi: Nikmatnya momen berbuka puasa.
d. Keberkahan Hidup: Rasa cukup (qana’ah) dan terbukanya pintu untuk rajin bersedekah
4. Memahami Makna Takwa yang Sesungguhnya
Taqwa menekankan kita untuk menjaga, melindungi, berhati-hati, dan waspada. Orang yang bertaqwa akan berpikir seribu kali sebelum melanggar ketentuan Allah.
Wujud nyata dari taqwa adalah konsistensi dalam menjalankan Rukun Islam, yaitu Syahadat, Shalat, Puasa, Zakat, hingga Haji bagi yang mampu.
5. Indikator Keberhasilan Setelah Ramadan
Ramadhan bukanlah finish line (garis akhir), melainkan start line (garis awal). Ukuran keberhasilan Ramadhan seseorang adalah apakah ibadahnya berlanjut setelah bulan ini berlalu?
Sebagaimana disebutkan dalam Ali Imron :
Ayat 133
۞ وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَ
Wa sāri'ū ilā magfiratim mir rabbikum wa jannatin 'arḍuhas-samāwātu wal-arḍu u'iddat lil-muttaqīn.
Artinya:"Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa."
Ayat 134
الَّذِيْنَيُنْفِقُوْنَفِىالسَّرَّۤاءِوَالضَّرَّۤاءِوَالْكَاظِمِيْنَالْغَيْظَوَالْعَافِيْنَعَنِالنَّاسِۗوَاللّٰهُيُحِبُّالْمُحْسِنِيْنَ
Allażīna yunfiqūna fis-sarrā'i waḍ-ḍarrā'i wal-kāẓimīnal-ga iẓa wal-'āfīna 'anin-nās(i), wallāhu yuḥibbul-muḥsinīn.
Artinya:
"(Yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan."
Ayat 135
Ayat ini menjelaskan hubungan hamba dengan Allah, terutama ketika mereka melakukan kesalahan atau dosa, mereka segera kembali kepada-Nya.
وَالَّذِيْنَاِذَافَعَلُوْافَاحِشَةًاَوْظَلَمُوْٓااَنْفُسَهُمْذَكَرُوااللّٰهَفَاسْتَغْفَرُوْالِذُنُوْبِهِمْۖوَمَنْيَّغْفِرُالذُّنُوْبَاِلَّااللّٰهُۖوَلَمْيُصِرُّوْاعَلٰىمَافَعَلُوْاوَهُمْيَعْلَمُوْنَ
Wallażīna iżā fa'alū fāḥisyatan au ẓalamū anfusahum żakarullāha fastagfarū liżunūbihim, wa may yagfiruż-żunūba illallāh(u), wa lam yuṣirrū 'alā mā fa'alū wa hum ya'lamūn.
Artinya:
"Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui."
Taqwa bukan hanya soal ibadah ritual (seperti shalat dan puasa), tetapi juga soal etika sosial (sedekah dan memaafkan) serta kejujuran pada diri sendiri (segera bertaubat saat melakukan kesalahan)
Saat Ramadan kita maksimalkan hari-hari yang tersisa. Jangan biarkan kesibukan dunia membuat kita kembali "menjauh". Jadikan setiap detik puasa kita sebagai sarana untuk lebih waspada (takwa) dalam melangkah, agar cahaya Ramadhan tetap bersinar di hati kita sepanjang tahun.
Semoga kita senantiasa menjadi mahkluk Allah SWT yang beriman dan bertaqwa...Aamiin
Team Media
prmgarunglor@gmail.com
@muhammadiyah_aisyiyah_muga
Kalam Lentera Masa
Komentar
Posting Komentar