BERSYUKUR PADA ALLAH - Kajian 2 PRM/PRA Garung Lor


Dokumen PRM Garung Lor

Konsep bersyukur kepada Allah SWT jauh melampaui sekadar ucapan lisan seperti alhamdulillah (memuji Allah). Namun rasa syukur merupakan tampilan nyata orang beriman dan sebuah konstruksi psikologis, kesadaran, serta tanggung jawab seorang hamba. Syukur dipandang sebagai kekuatan karakter yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan kesehatan mental, ketahanan spiritual, dan kontribusi sosial. Rasa syukur ini diikat erat dengan kesadaran memiliki Tuhan yang senantiasa mengawasi dan menyertai, serta kesadaran untuk mengelola diri sendiri agar tidak terjebak dalam keinginan memiliki dan menikmati secara berlebihan.

Secara garis besar syukur itu mampu menikmati dan memelihara yg baik tetapi menjauhi segala hal yg dilarang Allah SWT. Nikmat iman dan Islam, merupakan kebutuhan rohani setiap manusia yg didasari atas rasa taqwa. Sebagai umat Islam harus melekat dalam dirinya dalam keimanan. Sebagai dasar dan pijakan utamanya adalah Al Quran dan Sunnah. Pijakan pertama adl Al Quran, baru sunah dan diihat dari hadist nya baru kebijakan para ulama sebagai dasar dalam berperilaku.

Bentuk syukur yang sebenarnya, sesuai dengan ajaran Islam, melibatkan tiga dimensi utama:

1. Syukur dengan Hati, yaitu mengakui dan merasakan bahwa segala yang dimiliki, baik nikmat lahiriah maupun batiniah, adalah murni anugerah dari Allah.

2. Syukur dengan Lisan, yaitu mengucapkan puji-pujian dan terima kasih kepada Allah, seperti alhamdulillahi rabbil 'aalamiin.

3. Syukur dengan Perbuatan adalah bentuk syukur sebuah perbuatan diwujudkan melalui ketaatan dan pemanfaatan nikmat tersebut di jalan yang diridai Allah, misalnya menggunakan harta untuk sedekah, tubuh untuk beribadah, atau ilmu untuk memberi manfaat kepada orang lain

Dari kajian bulanan yang dijelaskan oleh Ustadz Supriyadi (Majelis Taklim Kecamatan Kaliwungu, sebagai pondasi syukur terdapat dalam Surat Al Maidah (Surat 5 ayat 54)


ا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَن يَرْتَدَّ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ۚ ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Artinya
Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui

Kandungan Al-Ma'idah Ayat 54,yaitu :

1. Pengganti Umat yang Murtad: Kehadiran Islam yg di ridhoi Allah untuk menggantikan orang-orang yang murtad dari agama Islam dan kafir
2. Cinta dan Kasih : Kaum yang dicintai oleh Allah adalah kaum yang menunjukkan keteguhan hati mereka dalam beriman.

Bagaimana Sikap Kita Terhadap Mukmin dan Kafir:

1. Bersikap penuh kasih dan simpati terhadap sesama orang beriman.
2. Bersikap tegas, keras dalam menghadapi orang-orang kafir.

Seorang muslim berjuang dengan harta dan jiwa di jalan Allah (jihad fi sabilillah) untuk menjunjung tinggi kalimat Allah dan menegakkan kebenaran agama. Dari sifat mulia ini karunia dan anugerah Allah yang diberikan kepada siapa pun yang Dia kehendaki, sebagai bukti keluasan dan kemahatahuan-Nya.

Dengan menjalankan syukur secara komprehensif, umat Islam akan memperoleh ketenangan jiwa (thuma'ninah) karena selalu mengingat Allah dalam segala keadaan. Selain itu, syukur juga berkorelasi dengan sikap qana'ah (merasa cukup dengan apa yang diberikan Allah), yang menjauhkan dari sifat iri, tamak, dan ambisi berlebihan yang tidak sehat. 
Syukur yang hakiki bukan hanya dilakukan saat senang, tetapi juga saat menghadapi kesulitan, karena senantiasa ada sisi nikmat dalam setiap keadaan. Muhammadiyah mengingatkan bahwa syukur sejatinya adalah untuk kebaikan hamba itu sendiri, karena Allah SWT Maha Kaya dan tidak membutuhkan pujian makhluk-Nya, sementara janji-Nya adalah akan menambah nikmat bagi mereka yang bersyukur.

Team Kesekretariatan PRM Garung Lor



Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENJAGA NYALA TAQWA SAAT RAMADAN ( Kajian Ramadhan oleh Ustadz Nuruz Zaman, ST )

Menjemput Keberkahan di Bulan Suci (Kajian ke-4 Bersama Ustadz Fikri Noor Al Bukhori)